Loading...

Rabu, 27 Oktober 2010

RASA AGAMA DAN INDIKATOR RASA AGAMA

PEMBAHASAN

A. Definisi Rasa Agama
Ada beberapa definisi rasa agama yang di uraikan oleh para pakar psikolgi agama diantaranya:
1. Walter Houston Clark dalam bukunya yang berjudul psychology of religion :
The inner experience of the individual when he sense a beyond, especially as evidenced by the effect of this experience on his behaivior when he actively attempts to harmonize his life with the beyond (rasa agama adalah pengalaman bathin dari seseorang ketika ia merasakan adanya Tuhan, khususnya bila efek pengalamannya terbukti dalam bentuk perilaku yaitu ketika ia secara aktif berusaha menyesuaikan hidupnya dengan Tuhan).
2. William James :
Religion is the feelings, acts, and experiences of individual ,men in their solitude, so far as they apprehend them selves to stand in relation to whatever they may consider the devine.(rasa agama adalah perasaan, tindakan, dan pengalaman seseorang dalam batinnya, sehinnga sampai seberapa jauh mereka dapat memahami diri mereka untuk tetap menjalankan pengalaman yang bersifat ketuhanan.)

Berangkat dari pengertian di atas maka setidaknya dapat di tarikk sebuah garis besar paradigma pemahaman, bahwa rasa agama adalah internalisasi nilai-nilai. Maksudnya adalah rasa agama merupakan sebuah manifestasi dari bentuk internalisasi ajaran-ajaran agama melalui pengalaman bathin sehingga sampai sejauh mana pengalaman bathin tersebut dapat mempengaruhi perilaku seseorang. William James menambahkan bahwa yang disebut rasa agama bukan saja pada bentuk Bathiniyyah saja, lebih dari itu rasa agama juga dapat berbentuk tindakan-tindakan yang bersifat kebertuhanan .
B. Indicator Rasa Agama
Pada dasarnya rasa agama adalah sebuah pengalaman bathin, sedangkan pengamalan bathin sendiri merupakan hal-hal yang berkaitan erat dengan kejiwaan. Karena ruang lingkup kajian jiwa sangatlah luas sampai-sampai para psikolog sangat sulit mengungkap dengan jelas bagaimana timbulnya rasa agama itu. Namun, Jika kita kembali pada sejarah munculnya psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang otonom yang baru muncul ke permukaan dan populer dikaji sebagai disiplin ilmu baru pada akhir abad ke-19 . Menurut Thouless, psikologi agama sendiri mulai berkembang setelah terbitnya buku the varieties of relegius experience pada tahun 1903.
Sekitar tahun itu psikologi agama mulai berkembang dan sebagai alat untuk meneliti agama dari susut pandang psikologi. Sasaran penelitian psikologi agama adalah rasa agama yang berarti merupakan kondisi internal manusia. Untuk menganalisis kondisi internal tersebut maka dapat dapat dilihat dari ekspresi tingkah laku yang tercermin melalui pengalaman kebertuhanan (bathin).
Kompleksitas yang dipikul dalam mengkaji rasa agama yang berupa internalisasai menarik para psikolog untuk memetakan aspek-aspek yang ada dalam mengkaji rasa agama dengan kata lain, pemetaan yang dilakukan oleh psikografi bertujuan untuk mempermudah kajian tentang indicator rasa agama.
Dalam mengkaji indicator rasa agama, para psikografi banyak terinspirasi dari teori glock (1962) tentang dimensions of relegions commitment. Glock mengutarakan ada 5 (lima) dimensi komitmen (indikasi) keagamaan yaitu: Ritualistic, ideological, intellectual, experiential, dan consequential. Verbit (1970) salah satu psikolog juga mengamini lima dimensi komitmen yang di ungkapkan oleh Glock dan strark, tetapi menurutnya kelima dimensi terssebut belum cukup dan dia menambahkan satu dimensi yang lain agar kajian indikasi rasa agama lebih dapat menyeluruh yaitu community. Di lain pihak walaupun secara jelas Verbit menyetujui ke lima dimensi yang diungkapkan diatas verbit juga menggunakan istilah yang agak berbeda dengan Glock yakni: ritual, doctrin, emotion, knowledge, ethics, dan community .
Dalam makalahnya, Dra. Susilaningsih memerinci dan mendeskripsikan gabungan dari dua indicator diatas, karena memang stressing point yang terdapat pada kedua pendapat tersebut bersamaan dan terdapat perbedaan hanya pada penggunaan istilah saja. Lalu Susilaningsih menggunakan istilah yang lebih mudah dipahami dengan sebutan :
1. Relegius belief (the ideological/ doctrine commitment)
Relegius belief atau kepercayaan agama. rasa agama seseorang dapat diukur dengan seberapa jauh pengamalan beragama seseorang memercayai doktrin-doktrin agamanya, ajaran-ajarannya, taqdirnya, dan semua hal yang berkaitan dengan perintah Tuhan. Kepercayaan seseorang kepada Tuhan dan sifat-sifatNYA merupakan substansi dari adanya rasa agama pada diri seseorang. Maka kemudian efek yang timbul dari kepercayaan tersebut berakibat pada indikasi seseorang untuk meyakini adanya kewajiban-kewajiban untuk beribadah dan perecaya akan kehidupan setelah mati. Dalam islam sendiri, indicator yang pertama ini termuat dalam bentuk Rukun Iman yang berupa; iman kepada Allah, malaikat, nabi dan, kitab-kitabNYA, hari kiamat dan Qodha’ dan takdir.
2. Relegius practice (the ritualistic commitment)
Adapun indikator yang kedua adalah berupa pelaksanaan kewajiban agama. pada relegius practice ini rasa beragama seseorang dapat diukur dengan seberapa jauh seseorang giat dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban beragama seperti, kehadiran seseorang ke Gereja, Pura, Wihara, atau melaksanakan ibadah wajib bagi ummat Muslim. Dalam bentuk kedua ini pengukuran pengalaman beragama ummat muslim dapat di fokuskan pada pelaksanaan Rukun Islam yang berupa, Syahadataini, sholat, Zakat, Puasa, dan Haji. namun, yang disayangkan dari masyarakat kita adalah seringkali terjebak pada pengukuran rutinitas pelaksanaan peribadatan tersebut tanpa melihat beberapa korelasi yang lain.
3. Relegius feeling (the experiential / emotion commitment)
Dimensi ketiga adalah Demensi perasaan. Biasanya pada dimensi ini dapat diamati dengan seberapa dalam rasa kebertuhanan seseorang. Dimensi ini sering juga disebut dengan esensi keberagamaan. Karena pada dimensi ini terdapat sebuah relasi transendental yang mana indikatornya tidak hanya pada percaya akan adanya tuhan melainkan dapat di evaluasi dengan kedekatan seseorang pada Tuhannya.
Adapun bentuk kedekatan pada Tuhan yang dirasakan pada dimensi ini melalui pelaksanaan ibadah, yakni seberapa sering seseorang merasakan perasaan yang spektakuler dalam hubungannya kepada Tuhan. Contohnya seberapa sering seseorang merasa doanya diterima, merasa selalu di perhatikan oleh Tuhan dan dijaga sehingga seseorang tersebut ingin selalu dekat dengan Tuhannya.
Bagi orang islam indicator ini dapat dilihat dengan keaktifan dalam melaksanakan ibada-ibadah Sunnah, bersifat ikhlas, berbaik sangka, dll. Disisi lain, dimensi perasaan juga sangat menonjol gejalanya bagi orang-orang yang mengalami konversi agama.
4. Relegius knowledge (the intellectual commitment)
Dimensi pengetahuan atau dimensi intelektual. Dimensi ini mengukur tentang intelektualitas keagamaan seseorang dengan kata lain, sampai seberapa banyak pengetahuan keagamaan seseorang dan seberapa tinggi motivasi untuk menambah pengetahuan beraagamanya.
Pada dimensi ini juga mengkaji tentang sifat intelektualitas seseorang apakah dia bersifat eksklusif (tekstual, doktriner) ataukah inklusif –kontektualis serta melihat sikap toleransi keagamaan seseorang baik secara intern (sesama agama) maupun secara ekstern (antar agama lain).
5. Relegius effect (the consequential/ethics commotment)
Selanjutnya adalah dimensi etika atau moral. Inti dari dimensi ini adalah mengukur tentang efek atau akibat pengaruh ajaran agama terhadap perilaku sehari-hari yang tidak terkait dengan perilaku ritual, yaitu perilaku yang mengekspresikan akan kesadaran moral seseorang, baik moral yang berhubungan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dalam islam dapat dicontohkan dengan tidak memakan makanan yang haram, pendapatan ekonomi yang halal, menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan, serta menjaga hubungan dengan orang lain seperti saling memaafkan, menghormati dan memulyakan.
6. Community (social commitment)
Pada ranah ini komuniti diartikan sebagai dimensi social yang mana dimensi ini mengukur seberapa jauh pemeluk agama terlibat dalam hubungan social antar sesama makhluk. Dalam islam, dimensi social dapat dicontohkan seperti seberapa besar peran seseorang dalam mengapresiasi dan membantu acara-acara social keagamaan.
Namun dalam perumusan indikator, verbit mengusulkan empat komponen pada masing-masing dimensi rasa agama diatas, hal ini bertujuan pengukuran indicator dapat memperoleh hasil yang lebih deskriptif. Adapun komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
a. Content : Sebagai alat ukur substansi dari masing-masing dimensi, yaitu ajaran-ajaran agama yang terkait dengan dimensi-dimensi rasa agama diatas.
b. Frequency : Seberapa sering aktifitas dari masing-masing dimensi itu dilakukan.
c. Intensity : sebarapa tinggi intensitas dari pelaksanaan masing-masing dimensi.
d. Centrality : sebarapa menonjol pelaksanaan suatu dimensi dengan dimensi lain.


KESIMPULAN
Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu sarana pendidikan agama tentunya tidak hanya berkutat dalam pembahasan material semata. Walaupun, pada dasarnya meteri merupakan pijakan seseorang dalam menambah pengalaman bathinnya. Akan tetapi PAI hendaknya disesuaikan dengan kadar dan kemampuan seseorang dalam trnsformasi keilmuan. Sehingga kegiatan yang terdapat dalam PAI tidak hanya berupa transisi keilmuan melainkan mampu mengena pada taraf transformasi keilmuan yang termanifestasi dalam bentuk ekspresi tingkah laku beragama.
Singkatnya, rasa agama adalah sebuah pengalaman bathin yang bias diamati melalui tindakan keagamaan. Sedangkan upaya untuk mengamati seberapa jauh pengalaman bathin seseorang mempengaruhi tingkah laku seseorang dapat diteliti dengan beberapa dimensi yakni,a). Dimensi keyakinan, b). Dimensi pengamalan, c). Dimensi perasaan, d). Dimensi pengetahuan, e). Dimensi efek/kesan, dan f). dimensi social.
Nah kemudian, dari beberapa dimensi tersebut pengukuran indicator dapat dilakukan dengan 4 cara, content (besarnya muatan), frekuensi tindakan, efektifitas, kesan tindakan.





Daftar Pustaka
Walter Housten Clark, Psychology of religion.
William james, the varieties of relegius experience.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Grafindo Persada
Susilaningsih, Metodologi Penelitian Agama Pendekatan Psikologi, Jurnal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar